Rabu, 26 Mei 2010

Makalah Sejarah Peradaban Islam

PERADABAN ISLAM DI ZAMAN KHULAFA AL-RASIDIN
(Perkembangan Islam Era Khulafa Al-Rasyidin)


Makalah


Disusun Guna Memenuhi Tugas:
Sejarah Peradaban Islam
Dosen Pengampu :
Moh. Rosyid, M. Pd.













Disusun Oleh :
Mohammad Nurul Hamim
108 146

SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) KUDUS
JURUSAN TARBIYAH (PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
2010

PERADABAN ISLAM DI ZAMAN KHULAFA AL-RASIDIN
(Perkembangan Islam Era Khulafa Al-Rasyidin)
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Sejarah adalah suatu rujukan saat kita akan membangun masa depan. Namun, kadang orang malas untuk melihat sejarah. Sehingga orang cenderung berjalan tanpa tujuan dan mungkin mengulangi kesalahan yang pernah ada di masa lalu. Di sinilah sejarah berfungsi sebagai cerminan bahwa di masa silam telah terjadi sebuah kisah yang patut kita pelajari untuk merancang masa depan.
Khulafa al-Rasyidin sebagai sahabat-sahabat yang meneruskan perjuangan Nabi Muhammad pantas dijadikan sebagai rujukan saat kita akan melaksanakan sesuatu di masa kini dan masa depan. Karena peristiwa yang terjadi sungguh beragam, mulai cara pengangkatan khalifah, sistem pemerintahan, pengelolaan administrasi, hubungan sosial kemasyaratan dan lain sebagainya.
Dalam memahami sejarah kita dituntut untuk dapat berpikir kritis. Sebab, sejarah bukanlah sebuah barang mati yang tidak dapat diubah. Akan tetapi sejarah bisa saja diubah kisahnya oleh sang penulis sejarah. Nalar kritis kita dituntut untuk mampu membaca sejarah dan membandingkan dengan pendapat lain. Saat kita sudah mampu untuk menyibak tabir sejarah dari berbagai sumber, barulah kita dapat melakukan rekonstruksi sejarah.
Rekonstruksi sejarah perlu dilakukan agar kita dapat memisahkan antara peradaban Arab dan peradaban Islam. Sebab, kita sering memakan mentah-mentah peradaban yang datang dari Arab, semuanya dianggap sebagai peradaban Islam. Kita perlu memandang peradaban dari berbagai aspeknya. Langkah ini agar kita tidak hanya sekedar ”bangga” dan larut dalam historisisme yang seringkali ”menjebak” pemikiran progressif kita .
Persepsi penulis tentang sejarah adalah menghidupkan kisah yang sudah hilang atau terlupakan. Karena belakangan ini banyak orang yang tidak memperhatikan sejarah. Seperti contoh sejarah yang menerangkan tentang peradaban, kebudayaan, serta pemerintahan di masa Khulafa al-Rasyidin. Yang mana penulis berusaha menjelaskan ulang berdasarkan buku-buku yang di peroleh yaitu tentang politik dan pemerintahan serta kebudayaan dan peradaban yang pada masa Khulafa al-Rasyidin, yang mana pemerintahannya sudah sangat baik dan berkembang, tetapi kalau di lihat dari masa sekarang memang masih ada kesenjangan dan kurang sempurna .
Maka dari pemaparan di atas, makalah ini dibuat judul : Peradaban Islam di zaman Khulafa al-Rasyidin (Perkembangan Islam Era Khulafa al-Rasyidin)
B. Permasalahan
Dari pendahuluan di atas maka pemakalah mengambil permasalahan yang akan dijelaskan di makalah ini, yaitu:
1. Bagaimana Politik dan Pemerintahan pada masa Khulafa al-Rasyidin?
2. Bagaimana Perkembangan kebudayaan dan peradaban pada Masa Khulafa al-Rasyidin?
C. Tujuan Penulisan
Tujuan yang ingin dicapai oleh penulis dalam makalah ini adalah untuk mengetahui:
1. Untuk mengetahui praktik politik dan pemerintahan pada masa Khulafa’ al-Rasyidin
2. Untuk memahami kebudayaan dan peradaban perkembangan pada masa Khulafa’ al-Rasyidin.
D. Landasan Konsepsional
Landasan konsepsi dijadikan pijakan oleh penulis dalam makalah ini meliputi perkembangan Politik, pemerintahan, kebudayaan dan pradaban.
a. Perkembangan Politik
Politik Islam yang diajarkan Nabi adalah sistem ”musyawarah”. Segala sesuatu berdasarkan musyawarah termasuk dalam pemilihan kepala negara. Di luar Jazirah Arab berlaku sistem ”monarchi absolut”, yaitu segala sesuatu dalam kekuasaan mutlak raja termasuk dalam penentuan calon pengganti raja .
b. Pemerintahan
Pemerintahan pada masa Rasulullah berbeda dengan masa Khulafa al-Rasyidin, karena setiap pemimpin mempunyai keunggulan-keunggulan dan visi yang berbeda-beda. Tapi pada hakikatnya adalah sama, maksudnya dalam pemerintahan yang di pegang oleh Khulafa al-Rasyidin itu mempunyai tujuan dan versi yang berbeda, tetapi pada intinya adalah memajukan dan mensejahtrakan rakyat beliau sehingga terjadi pemerintahan yang ideal (orang yang mempunyai cita-cita ke arah kemajuan).
c. Kebudayaan
Secara Harfiah ”kebudayaan” berasal dari kata ”budi” dan ”daya” ditambah awalan ”ke” dan akhiran ”an”. Budi berarti akal dan daya berarti kekuatan. Dengan demikian kebudayaan Islam berarti segala sesuatu yang dihasilkan oleh kekuatan akal manusia muslim .
d. Peradaban
Sedangkan peradaban berasal dari kata Arab ”Adab” berarti bernilai tinggi. Dengan demikian peradaban Islam adalah kebudayaan Islam yang bernilai tinggi. Maksudnya, dengan adanya kebudayaan dan peradaban, maka Islam menjadi agama yang yang luhur dan imbasnya menjadi mashur di kalangan umat Islam sedunia. Di samping itu peradaban juga diartikan sebagai sosok bangunan kebudayaan yang sudah mencapai taraf bangunan yang tinggi dan kompleks yang ditandai oleh seni arsitektur yang bergaya megah, taraf perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi canggih .
E. Kajian Pustaka
Pada saat penyusunan makalah ini, penulis baru mendapatkan tiga pokok bahasan yang kajianya sama, yaitu :
Pertama, Dalam bukunya Musyrifah Sunanto yang berjudul : ”Sejarah Islam Klasik”, menjelaskan tentang sejarah Khulafa al-Rasyidin yang mana pada pemerintahan-Nya mengalami beberapa kemajuan baik dari kebudayaan dan politik-politik serta peradaban yang ada pada saat itu.
Penulis beranggapan bahwasannya pemerintahan pada masa Khulafa al-Rasyidin memang sudah sangat baik tetapi pada hakekatnya jika di lihat pada sistem pemerintahan sekarang memang berbeda, karna pemerintahan sekarang sudah sangat modern dan berkembang sehingga pemerintahan pada saat Khulafa al-Rasyidin tidak terlihat berkembang. Marilah kita memandang sejarah Khulafa al-Rasyidin menjadi teladan dan pelajaran bagi kita semua, sehingga dapat memperoleh pengetahuan yang bermanfaat.
Kedua, Menurut Siti Maryam dalam bukunya ”Sejarah Peradaban Islam dari Masa Klasik Hingga Masa Modern” memberikan arti dan sejarah Islam pada masa Rasulullah sampai Khulafa al-Rasyidin beserta peradaban dan kebudayaan pada masa tersebut. Dan Ketiga, Khutbah Jum’at di Masjid Darussalam -Gembong- menjelaskan bahwa dalam perkembangan politik pemerintahan khulafa Ar-rasyidin sudah sangat baik, karena pada masa itu peradaban dan kebudayaan sudah berkembang pesat. Disini penulis menilai bahwasannya pemerintahan pada saat itu sudah Sangat bagus, karena sudah mengalami rekonstruksi sejarah.


BAB II
PEMBAHASAN
Dalam pembahasan ini mengulas peradaban Islam di zaman Khulafa al-Rasyidin ”Perkembangan Islam Era Khulafa al-Rasyidin”. Sejarah Khulafa al-Rasyidin memang sangat menghemparkan dunia baik pada masa dahulu hingga masa sekarang. Buktinya firqoh-firqoh Agama Islam terjadi , dan tak kalah juga pemerintahan Khulafa al-Rasyidin juga sering diikuti oleh pemerintah-pemerintah zaman modern saat ini, walaupun tidak seluruhnya diikuti. Dalam bab ini penulis akan menerangkan secara singkat tentang perkembangan Politik, pemerintahan, serta perkembangan di masa Khulafa al-Rasyidin.
A. Politik dan Pemerintahan Pada masa Khulafa al-Rasyidin
1. Abu Bakar As-Shiddiq (11-3 H/ 632-634 M)
Abu Bakar memangku jabatan Khalifah berdasarkan pilihan yang berlangsung sangat demokratis di muktamar Tsaqifah Bani Sa’idah, memenuhi tata cara perundingan yang dikenal dunia modern saat ini. Kaum Anshar menekankan pada persyaratan jasa (merit), mereka mengajukan calon Sa’ad Ibn Ubadah. Kaum muhajirin menekankan pada persyaratan kesetiaan, mereka mengajukan Abu Ubaidah Ibn Jarrah . Sementara itu Ahlul Bait menginginkan agar Ali Ibn Abi Thalib menjadi khalifah atas dasar kedudukannya dalam Islam, juga sebagai menantu dan karib Nabi. Hampir saja perpecahan terjadi. Melalui perdebatan dengan beradu argumentasi, akhirnya Abu Bakar disetujui oleh jama’ah kaum muslimin untuk menduduki jabatan khalifah.
Sebagai khalifah pertama, Abu Bakar dihadapkan pada keadaan masyarakat sepeninggal Muhammad SAW. Meski terjadi perbedaan pendapat tentang tindakan yang akan dilakukan dalam menghadapi kesulitan yang memuncak tersebut, kelihatan kebesaran jiwa dan ketabahan batinnya. Seraya bersumpah dengan tegas ia menyatakan akan memerangi semua golongan yang menyimpang dari kebenaran (orang-orang yang murtad, tidak mau membayar zakat dan mengaku diri sebagai Nabi).
Menurut pengamatan penulis, Kekuasaan yang dijalankan pada massa khalifah Abu Bakar, sebagaimana pada masa Rasululllah, bersifat sentral; kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif terpusat ditangan khalifah. Selain menjalankan roda pemerintahan, khalifah juga melaksanakan hukum. Meskipun demikian, seperti juga Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar selalu mengajak sahabat-sahabatnya bermusyawarah.
Setelah menyelesaikan urusan perang dalam negeri, barulah Abu Bakar mengririm kekuatan ke luar Arabia. Khalid Ibn Walid dikirim ke Irak dan dapat menguasai Al-Hiyah di tahun 634 M. Ke Syria dikirim ekspedisi dibawah pimpinan empat jendral yaitu Abu Ubaidah, Amr Ibn ’Ash, Yazid Ibn Abi Sufyan, dan Syurahbil. Sebelumnya pasukan dipimpin oleh Usamah yang masih berusia 18 tahun .
Persepsi penulis Khalifah Abu Bakar yang diangkat dengan sistem demokrasi langsung dan dia juga Sebagai khalifah sudah sangat demokratis, walaupun pada masa itu masih terjadi perbedaan pendapat antara golongan yang menyimpang dari kebenaran . Dan kekuasaan yang dijalankan pada massa khalifah Abu Bakar, sebagaimana pada masa Rasululllah, bersifat sentral; kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif terpusat ditangan Khalifah. Selain menjalankan roda pemerintahan, khalifah juga melaksanakan hukum. Meskipun demikian, seperti juga Nabi Muhammad SAW, Abu Bakar selalu mengajak sahabat-sahabatnya bermusyawarah.

2. Umar Ibn Al-Khathab (13-23 H/634-644 M)
Umar Ibn Al-Khathab diangkat dan dipilih oleh para pemuka masyarakat dan disetujui oleh jama’ah kaum muslimin. Pada saat menderita sakit menjelang ajal tiba, Abu Bakar melihat situasi negara masih labil dan pasukan yang sedang bertempur di medan perang tidak boleh terpecah belah akibat perbedaan keinginan tentang siapa yang akan menjadi calon penggantinya, ia memilih Umar Ibn Al-Khathab. Pilihannya ini sudah dimintakan pendapat dan persetujuan para pemuka masyarakat pada saat mereka menengok dirinya sewaktu sakit.
Pada masa kepemimpinan Umar Ibn Al-Khathab, wilayah Islam sudah meliputi jazirah Arabia, Palestina, Syria, sebagian besar wilayah Persia, dan Mesir. Karena perluasan daerah terjadi dengan begitu cepat, Umar Ibn Al-Khathab segera mengatur administrasi negara dengan mencontoh administrasi pemerintahan, dengan diatur menjadi delapan wialayah propinsi : Mekah, Madinah, Syria, Jazirah, Basrah, Kufah, Palestina, dan Mesir .
Penulis beranggapan bahwasannya pemerintahan Pada masa Umar Ibn Al-Khathab diangkat dan dipilih oleh para pemuka masyarakat dan disetujui oleh jama’ah kaum muslimin. Pada masa pemerintahan Abu Bakar hukum seluruhnya pada khalifah tetapi Umar membuat pengadilan didirikan dalam rangka memisahkan lembaga Yudikatif dengan Eksekutif. Demi lancarnya keamanan dan ketertiban, Jawatan kepolisian dibentuk. Demikian juga jawatan pekerjaan umum
Dalam pemerintahan Umar ada beberapa departemen yang dipandang perlu didirikan pada masanya mulai diatur dan ditertibkan sistem pembayaran gaji dan pajak tanah. Pengadilan didirikan dalam rangka memisahkan lembaga Yudikatif dengan Eksekutif. Untuk menjaga keamanan dan ketertiban, Jawatan kepolisian dibentuk. Demikian juga jawatan pekerjaan umum, Umar Ibn Al-Khathab juga mendirikan Bait al-Mall. Dalam menyelesaikan permasalahan yang berkembang dimayarakat Umar selalu berkomunikasi dengan orang-orang yang memang dianggap mampu dibidangnya.
3. Ustman Ibn Affan (23-35 H/644-656 M)
Ustman Ibn Affan dipilih dan diangkat dari enam orang calon yang diangkat oleh khalifah Umar saat menjelang wafatnya karena pembunuhan. Keenam orang tersebut adalah: Ali bin Abu Thalib, Utsman bin Affan, Saad bin Abu Waqqash, Abd al-Rahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, serta Abdullah bin Umar, putranya, tetapi ”tanpa hak suara”. Umar menempuh cara sendiri yang berbeda dengan cara Abu Bakar. Ia menunjukkan enam orang calon pengganti yang menurutnya dan pengamatan mayoritas kaum muslimin memang pantas menduduki jabatan Khalifah. Oleh sejarawan islam mereka disebut Ahl al-Hall al’aqd pertama dalam islam. merekalah yang bermusyawarah untuk menentukan siapa yang menjadi khalifah. Dalam pemilihan lewat perwakilan tersebut Ustman Ibn Affan mendapatkan suaran lebih banyak, yaitu 3 suara untuk Ali dan 4 suara untuk Ustman Ibn Affan.
Pemerintah khalifah Ustman Ibn Affan mengalami masa kemakmuran dan berhasil dalam beberapa tahun pertama pemerintahannya. Ia melanjutkan kebijakan-kebijakan Khalifah Umar. Pada separuh terakhir masa pemerintahannya, muncul kekecewaaan dan ketidakpuasaan dikalangan masyarakat karena ia mulai mengambil kebijakan yang berbeda dari sebelumnya. Ustman Ibn Affan mengangkat keluarganya (Bani Ummayyah) pada kedudukan yang tinggi. Ia mengadakan penyempurnaan pembagian kekuasaan pemerintahan, Ustman Ibn Affan menekankan sistem kekuasaan pusat yang mengusaai seluruh pendapatan propinsi dan menetapkan seorang juru hitung dari keluarganya sendiri .
Penulis beranggapan bahwasannya pemerintahan Pada Ustman Ibn Affan kekhalifahannya dipilih dan diangkat dari enam orang calon yang diangkat oleh khalifah Umar saat menjelang wafatnya karena pembunuhan. Oleh karna itu pada masa pemerintah khalifah Ustman Ibn Affan mengalami masa kemakmuran dan berhasil dalam beberapa tahun pertama pemerintahannya. Utsman naik menjadi Khalifah dengan sistem perwakilan, atau sekarang lebih dikenal dengan parlemen, sedang Ali naik dengan klaim sepihak dari kelompoknya yang akhirnya kaumnya terpecah belah.
4. Ali Ibn Abi Thalib (35-40 H/656-661 M)
Ali Ibn Abi Thalib tampil memegang pucuk kepemimpinan negara di tengah-tengah kericuhan dan huru-hara perpecahan akibat terbunuhnya Usman oleh kaum pemberontak. Ali Ibn Abi Thalib dipilih dan diangkat oleh jamaah kaum muslimin di Madinah dalam suasana sangat kacau, dengan pertimbangan jika khalifah tidak segera dipilih dan di angkat, maka ditakutkan keadaan semakin kacau. Ali Ibn Abi Thalib di angkat dengan dibaiat oleh masyarakat.
Dalam masa pemerintahannya, Ali Ibn Abi Thalib mengahadapi pemberontakan Thalhah, Zubair, dan Aisyah. Alasan mereka, Ali Ibn Abi Thalib tidak mau menghukum para pembunuh Usman dan mereka menuntut bela’ terhadap daerah Usman yang telah ditumpahkan secara dhalim. Perang ini dikenal dengan nama perang jamal.
Bersamaan dengan itu, kebijaksanaan-kebijaksanaan Ali Ibn Abi Thalib juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari gubernur di Damaskus, Muawiyah. Yang didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggi yang merasa kehilangan kedudukan dan kejayaannya. Pertempuran yang terjadi dikenal dengan perang shiffin, perang ini diakhiri dengan tahkim (arbitrase) , tapi tahkim ternyata tidak menyelsaikan masalah, bahkan menyebabkan timbulnya golongan ketiga Al-Khawarij (orang-orang yang keluar dari barisan Ali).
Dalam hal ini penulis mempunyai persepsi pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib sangat kacau, karena firqoh islam muncul. Walaupun pada dasarnya firqoh-firqoh sudah ada sejak zaman Rasulullah.
B. Perkembangan kebudayaan dan pradaban dimasa Khulafa al-Rasyidin
1. Pada Masa Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq
Pada ini kondisi sosial mayarakat menjadi stabil dan dapat mengamankan tanah Arab dari pembangkang dan penyelewengan seperti orang murtad, para nabi palsu dan orang-orang yang enggan membayar zakat.
Selain itu keadaan kaum muslimin menjadi tentram, tidak khawatir lagi beribadah kepada Allah. Perkembangan dagang dan hubungan bersama kaum muslim yang berada di luar Madinah keadaannya terkendali dan terjalin dengan baik. Selain itu juga kemajuan yang dicapai adalah : Pembukuan Al-Qur’an .
2. Pada Masa Khalifah Umar Ibn Al-Khathab
Pada masa khalifah Umar Ibn al-Khathab masalah peradaban dan kebudayaan sudah berkembang dari pada Abu Bakar as-Siddiq, Diantara adalah sebagai berikut:
a. Pemberlakuan Ijtihad
b. Menghapuskan zakat bagi para muallaf
c. Mengahpuskan hukum mut’ah
d. Lahirnya ilmu Qira’at
e. Penyebaran Ilmu Hadits
f. Menempa mata uang dan
g. menciptakan tahun Hijriah
3. Pada Masa Khalifah Ustman Ibn Affan
Diantara perkembangan kebudayaan dan peradaban yang ada pada masa Khalifah Ustman adalah :
a. Penaskhihan Al-Qur’an
b. Perluasan Masjid Nabawi dan Masjidil Haram
c. Didirikannya masjid Al-Atiq di utara benteng babylon
d. Membangun Pengadilan
e. Membentuk Angkatan Laut
f. Membentuk Departemen:
i Dewan kemiliteran
ii Baitrul Mall
iii Jawatan Pajak
iv Jawatan Pengadilan .
4. Pada Masa Khalifah Ali Ibn Abi Thalib
Diantara perkembangan kebudayaan dan peradaban yang ada pada masa Ali adalah :
a Terciptanya ilmu bahsa/nahwu (Aqidah Nahwiyah)
b Bemkebangnya ilmu Khatt al-Qur’an
c Berkembangnya Sastra .
Menanggapi hal di atas, Akhirnya penulis mengambil beberapa titik point yang berlangsung pada masa khulafa al-Rasyidin, yaitu : Pemerintahan yang berkembang pada pada masa Khulafa’ al-Rasyidin selalu berkembang dan berubah. Sehingga pada masa saat sekarangpun juga mengikuti problema dan modernisasi yang ada. Begitu juga politik yang berlangsung pada masa itu, pasti setiap pemimpin yang berbeda mempunyai visi dan misi yang berbeda, sehingga terjadi pemerintahan yang ideal (maksudnya pemerintahan yang baik menurut pemerintahan pada masa itu). Jadi kita sebagai umat Islam bisa menilai pemerintahan di atas sudah bagus, walaupun berbeda pada pemerintahan pada saat ini.

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Simpulan yang dapat penulis ambil dari pemaparan diatas adalah, bahwa dalam sejarah pemerintahan Islam tidak ada satu pun konsep negara Islam. Sebab semuanya tergantung pada situasi dan kondisi yang ada. Seperti Abu Bakar yang diangkat dengan sistem demokrasi langsung, Umar diangkat dengan sistem kerajaan, yaitu Abu Bakar mengangkat langsung Khalifah Umar sebagai pengganti dirinya, Utsman naik menjadi khalifah dengan sistem perwakilan, atau sekarang lebih dikenal dengan parlemen, sedang Ali naik dengan klaim sepihak dari kelompoknya yang akhirnya kaumnya terpecah belah.
B. Penutup
Demikian makalah yang dapat kami sampaikan, kami berharap semoga dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca khususnya pelajaran bagi saya sendiri .kritik yang membangun sagat kami harapkan, semoga bermanfaat bagi kita semua.


DAFTAR PUSTAKA
Al-Jabiri, Mohamed Abed. 2004. Problem Peradaban: Penelusuran Atas Jejak Kebudayaan Arab, Islam dan Timur. Yogyakarta: Belukar.
Engineer, Asghar Ali. Devolusi Negara Islam. 2000. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Faisal Ismail, 1998. Paradigma Kebudayaan Islam. Yogyakarta: Titian Ilahi Press
Maryam, Siti dkk (Ed.). 2004. Sejarah Peradaban Islam dari masa klasik hingga masa modern. Yogyakarta: LESFI.
Musyrifah sunanto. 2003. Sejarah Islam Klasik. Jakarta: Prenada Media..
Rajasa, Sutan. 2002. Kamus Ilmiah Populer, Surabaya: Karya Utama.
Sjadzali, Munawir. 1993. Islam dan Tata Negara Ajaran, Sejarah dan Pemikiran. Jakarta: UI-Press.
Yatim, Badri. 2006. Sejarah Peradaban Islam Dirasah Islamiyah II. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Sumber dari Media:
Khutbah Jum’at di Masjid Darussalam -Gembong-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar